Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko. (Foto: Irsya Richa/MalangTimes)

Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko. (Foto: Irsya Richa/MalangTimes)


Editor

Heryanto


Kasus bayi stunting di Kota Batu tahun 2018 lalu tercatat mencapai 28 persen. 

Namun persentase itu terbilang turun jika dibandingkan dengan tahun 2017 yang mencapai angka 35 persen.

Untuk menurunkan angka stunting itu Pemkot Batu gerilya sambil memberikan beberapa program sejak ibu hamil. 

Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko mengatakan, langkah yang dilakukan salah satunya adalah program Jaminan Persalinan (Jampersal) pada ibu hamil.

Terhitung sejak usia kandungan 0 bulan hingga kelahiran semua biaya selama mengandung hingga persalinan gratis. 

“Kita sudah punya program Jampersal, lewat program ini beberapa tahap diikuti ibu hamil. Mulai mengandung mendapatkan nutrisi ibu hamil, berupa susu, senam ibu hamil, hingga menuju persalinan,” kata Dewanti. 

Tidak hanya itu saja, lewat kota sehat itu juga mempengaruhi angka stunting. Tetapi hal ini lanjut Dewanti, juga tergantung pada calon ibu. 

“Kesiapan seorang wanita menjadi ibu itu menjadi pengaruh. Di mana memang sekarang ternyata banyak wanita nyatanya belum siap, dan ini berpengaruh pada stunting,” imbuhnya. 

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Batu, Drg Kartika Trisulandari menambahkan, permasalahan stunting juga dipengaruhi faktor makanan dan sanitasi.

“Dua faktor ini lah penyebab utama yang terjadi di Kota Batu. Dari survey itu mulai dari keragaman pangan dan komposisi. Protein lemak dan karbohidrat tidak berimbang,” kata Kartika.

Saat ini Dinkes Kota Batu berupaya rutin melakukan penimbangan kembali terhadap balita di Kota Batu. 

Penimbangan itu dilakukan pada Februari dan Agustus. 

“Dan saat ini sudah ada 700 anak yang didampingi Dinkes Kota Batu. Selain itu calon penganten juga masuk kelas reproduksi,” tutupnya.

 


End of content

No more pages to load