Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

Kasus perundungan atau bullying yang dialami salah satu siswa berinisial MS di SMPN 16 Kota Malang hingga menyebabkan salah satu jari tangan kanannya dilakukan operasi amputasi, menjadi perhatian berbagai pihak.

Salah satunya dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Bahkan, guna mengantisipasi adanya kejadian serupa pihaknya hari ini (Kamis, 13/2) bertemu dengan jajaran instansi Pemerintah Kota (Pemkot) Malang. 

Dari pertemuan yang berlangsung selama kurang lebih dua jam di Balaikota Malang itu, salah satu yang disarankan pihak KPAI yakni pembentukan screening (penyaringan) data siswa. Hal ini dinilai, akan lebih mempermudah lembaga sekolah dalam mengawasi dan memberikan perhatian kepada anak didiknya.

"Ini saya sampaikan untuk membuat screening guru-guru di sekolah. Jadi, baik itu guru BK (Bimbingan Konseling) dengan wali kelas membuat itu. Jadi ada data mana anak-anak yang orang tuanya bercerai dan tidak," ujar Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti.

Sejauh ini dari banyaknya kasus perundungan yang terjadi di Indonesia bahkan ada kecenderungan anak ingin bunuh diri. Jumlahnya mencapai 40 persen, disebabkan karena orang tuanya bercerai.

Karenanya, ia menilai keadaan tersebut memiliki dampak yang signifikan bagi kepribadian si anak. Sehingga, sekolah juga dinilai memiliki peran yang lebih untuk memperhatikan siswanya.

"Biasanya orang tua bercerai itu punya dampak, karenanya anak-anak ini butuh perhatian khusus. Dia tinggal dengan siapa, ayah atau ibu atau neneknya. Itu juga mempengaruhi psikologi, jadi kalau ada masalah tidak bisa langsung ngejudge (menghakimi)," imbuhnya.

Terkait kasus bullying yang terus terjadi, menurutnya sekolah harus lebih memiliki kepekaan. Sehingga melalui screening juga akan lebih mempermudah kinerja dari guru BK, dan bagaimana peran orang dewasa mengajarkan anak untuk berani speak-up (berbicara).

"Di sini sekolah akan jadi lebih punya kepekaan dan empati, itu yang harus dibangun. Maka sistem regulasi itu membangunnya seperti apa harus diperhatikan, dan itu harus efektif. Anak juga harus diajari oleh orang dewasa untuk speak-up, berani melawan karena itu penting. Sehingga kalau ada kejadian, langsung bisa lapor dan tertangani," pungkasnya.