Cabai rawit salah satu bahan makanan penyumbang deflasi di Kota Malang. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Cabai rawit salah satu bahan makanan penyumbang deflasi di Kota Malang. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

Wabah pandemi virus Corona atau Covid-19 turut berimbas pada penurunan harga beberapa komoditi termasuk bahan makanan. 

Di bulan Maret 2020, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mencatat deflasi sebesar -0,41 persen.

Dari 8 kota dan kabupaten indeks harga konsumen (IHK) di Jawa Timur, Kota Malang menjadi satu-satunya yang mengalami Deflasi.

Penyumbang andil terbesar dari deflasi kali ini yakni pada biaya transportasi dan komoditi bahan makanan.

"Dari deflasi -0,41 persen itu disebabkan karena dua kelompok pengeluaran yaitu yang tertinggi dari kelompok transportasi 3,21 persen. Kedua adalah penurunan indeks di kelompok makanan, minuman, tembakau 0,50 persen," ujar Kepala BPS Kota Malang, Sunaryo, Rabu (1/4).

Dijelaskannya, 10 penyumbang andil deflasi di Kota Malang yaitu transportasi angkutan udara sebesar mengalami andil penurunan sebesae -0,44 persen. 

Kemudian cabai merah -0,11 persen, cabai rawit -0,07 persen, daging ayam ras -0,03 persen, bawang putih -0,02 persen.

"Kemudian untuk jagung manis, kentang, daging sapi, kacang panjang, dan semangka juga memberikan andil penyebab deflasi masing-masing sebesar -0,01 persen," jelasnya.

Disisi lain, komoditas lain penghambat deflasi yaitu tertinggi kenaikan harga pada komoditi emas perhiasan sebesar 7,03 persen dengan andil 0,06 persen. 

Kemudian, gula pasir dan tarif kendaraan roda 4 online dengan andil sebesar 0,02 persen.

"Selanjutnya komoditi anggur, telepon seluler, udang basah, jeruk, telur ayam ras, bayam, susu bubuk balita masing-masing memberikan andil penghambat deflasi sebesar 0,01 persen," ungkapnya.

Dari depalan kota/kabupaten di Jawa Timur, inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Jember sebesar 0,34 persen. 

Disusul oleh Kabupaten Banyuwangi sebesar 0,27 dan Madiun sebesar 0,19 persen.